Bandung, 28 Februari 2017 – Isu publik saat ini kian marak dengan informasi invalid menjurus hoax/informasi bohong, sehingga praktisi hubungan masyarakat (humas) harus makin aktif menjalin relasi dengan berbagai kalangan di masyarakat.

Kepala Humas Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat Yayan Istiandi mengatakan hal tersebut dalam Coffee Morning Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Badan Pengurus Cabang (BPC) Bandung di Graha XL, Kota Bandung, Minggu (26/02/2017) siang.

“Kami rasakan sendiri ‘badai’ informasi tidak benar, terutama tentang logo arit dalam uang emisi baru 2016 yang diluncurkan 16 Desember lalu. Ini membuat kami makin aktif bergerak sosialisasi, dengan edukasi yang sebenarnya,” katanya.

Acara dibuka oleh Ketua Perhumas BPC Bandung N. Nurlaela Arief dan Penasehat Perhumas BPC Bandung Prof. Soleh Soemirat, Ketua Bidang BPC BPP Perhumas Tarsih Ekaputra, lengkap dengan jajaran pengurus termasuk Perhumas Muda Bandung.

Menurut Yayan, tantangan tak sekedar logo palu arit. Sorotan dan serangan juga dikaitkan dengan warna uang yang menyerupai warna khas uang Tiongkok, percetakan dirumorkan tidak dilakukan PT Peruri, banyaknya pahlawan non Muslim, hingga Cut Nyak Meutia yang tak berhijab.

“Tapi semuanya bisa kami jawab secara lurus, tidak ada kaitan politik. Posisi Bank Indonesia itu pengelola aspek monitor independen bukan bawahan presiden, sehingga semua yang kami lakukan adalah pertimbangan independen yang tidak terafiliasi aliran politik apapun,” katanya.

Dia menjelaskan, logo palu arit adalah persepsi saja karena itu murni teknologi rectoverso. Warna mendekati Tiongkok karena warna mata uang di Eropa pun dominan ke warna utama yang sebenarnya itu-itu saja.

Percetakan tetap dilakukan PT Peruri dengan pasokan dari perusahaan swasta pemenang lelang, sementara pemilihan mata uang itu merujuk pada daftar pahlawan dari Departemen Sosial yang meriset lama data seseorang yang jadi pahlawan.

“Sementara Cut Nyak Meutia merujuk pada dokumentasi valid yang dirilis pemerintah. Perda syariat Aceh juga baru ada beberapa waktu lalu, jadi mungkin hal ini yang membuat foto tidak berhijab,” sambungnya.

Situasi ini, kata dia, membuat insan humas harus lebih intensif dalam berkomunikasi dengan semua elemen masyarakat. Mulai dengan sesama pemerintahan, anggota dewan, masyarakat sipil, opinion leaders, hingga TNI dan polisi.

Yayan menjelaskan, sosialisasi uang baru dilakukan mulai ke Sekolah Komando TNI, Polda Jabar, para ulama, bahkan masyarakat daerah pinggiran Jawa Barat seperti di Ujung Genteng, Sukabumi dan Cikelet, Garut Selatan.

“Di luar itu, sebagai humas, kami didorong mengenal dan akrab semua lapisan masyarakat. Karena bagi saya tak ada istilah tidak kenal, justru kita mendatangi orang-orang dimanapun supaya pada kenal. Kita saat ini harus proaktif dan menyesuaikan dengan minat tiap orang baru yang kita kenali,” katanya.

N. Nurlaela Arief, Ketua Perhumas BPC Bandung, mengatakan, sesi sharing tersebut akan terus dilakukan dengan narasumber dan tema berbeda pada bulan-bulan berikutnya, sehingga penguatan internal organisasi akan terus dilakukan.

Selain itu, kata dia, organisasinya juga bakal makin memperkuat kontribusi dan pengaruhnya ke masyarakat dengan penguatan personel organisasinya berupa mengukuhkan pengurus dengan sumber daya manusia lebih mumpuni.

Dalam kegiatan kemarin, ditetapkan pengurus baru antara lain Wakil Ketua Umum Indra Ardiyanto dari PT XL Axiata Central Region dan Sekretaris Muhammad Sufyan Abdurrahman (Telkom University).  Selain itu, kemarin juga diadakan pemilihan pengurus baru Perhumas Muda Bandung dengan sistem fit and proper dengan Ketua Rianto (Unpad) dan Wakil Ketua Aldi Rinaldi (UIN Sunan Gunung Djati).

Author

admin@perhumasmudabdg.com
Total post: 37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *