Personal Brand sudah menjadi suatu kewajiban yang harus dikuasai oleh seorang calon praktisi Public Relations. Seorang pendiri Amazon, Jeff Bezos mengatakan bahwa “Your brand is what other people say about you when you’re not in the room”. Jauh sebelum saat ini, “branding” kerap kali beririsan sebagai istilah dalam bisnis. Kini, “branding” tidak lagi terdengar asing, tetapi menjadi sebuah cara untuk menggambarkan citra diri mengenai karier atau hal-hal lain untuk lingkungan sekitar.

Personal brand adalah kombinasi yang unik antara keahlian dan pengalaman yang membuat kita berbeda daripada yang lainnya. Bisa dibilang, personal brand adalah bekal untuk merepresentasikan diri di hadapan publik. Konsep branding terlihat cukup mudah. Cara yang autentik serta mengomunikasikan self-image secara konsisten dan jelas, mampu memberikan pengaruh positif terhadap orang lain. Melalui hal ini, individu dapat secara langsung membangun image yang ingin ditampilkan supaya berbaur di kalangan publik sasaran.

Lantas, bagaimana cara membangun personal branding yang tepat? Menurut Montoya & Vandehey dalam bukunya yang berjudul “The Brand Called You: Create a Personal Brand That Wins Attention and Grows Your Business” menjelaskan bahwa membangun personal branding tentunya memerlukan beberapa elemen utama, dimana elemen-elemen tersebut harus saling terintegrasi dan dibangun secara bersamaan. 

Personal Branding dapat dibagi menjadi tiga elemen utama, yakni :

1. You, atau dengan kata lain, seseorang itu sendiri. Seseorang dapat membentuk sebuah personal branding melalui sebuah polesan dan metode komunikasi yang disusun dengan baik, yang dirancang untuk menyampaikan dua hal penting kepada target sasaran yang kita tuju. Ini menggambarkan apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang seseorang. Hal tersebut mencerminkan nilai-nilai, kepribadian, keahlian dan kualitas yang membuat seseorang berbeda dengan yang lainnya. 

2. Promise. Personal Brand adalah sebuah janji, sebuah tanggung-jawab untuk memenuhi harapan yang timbul di kalangan masyarakat sebagai akibat dari personal brand itu sendiri. 

3. Relationship. Sebuah personal branding yang baik akan mampu menciptakan suatu relasi yang baik dengan klien. Semakin banyak atribut-atribut yang dapat diterima oleh klien dan semakin tingginya tingkat kekuasaan seseorang, menunjukkan semakin baiknya tingkat relasi yang ada pada personal branding tersebut. 

Menjadi seorang mahasiwa tentu 3 elemen utama ini dapat diaplikasikan. Sebagai contoh mahasiswa mendefinisikan dirinya sebagai remaja berprestasi yang dibuktikan dengan perolehan beasiswa atau  aktif ikut serta pada kegiatan dalam dan luar kampus. Masih melalui media sosialnya, ia kerap aktif berusaha membagikan hal-hal yang positif kepada para pengikut media sosialnya. Seorang mahasiswa diharapkan tampil di mata publiknya sepatutnya seorang mahasiswa. Mulai dari penampilan fisik hingga cara berpikir. Segala bentuk citra yang ingin ditampilkan harus memenuhi janji sebagai tanggung jawab kepada publiknya. Dengan begitu, hubungan yang didapat dengan publik akan  tercipta sangat baik.

Sukses atau tidaknya personal brand juga dinilai oleh strategi yang tepat. Untuk merepresentasikannya, dapat dimulai dari bercerita mengenai diri sendiri. Cerita ini dapat dimulai dengan menjawab pertanyaan siapa diri kita? Hal apa yang kita minati? Kepribadian apa yang ingin ditunjukkan? Pesan apa yang ingin disampaikan? Sukses membuat cerita, beralih pada audience. Penting untuk menemukan audience yang menjadi sasaran publik atas konten yang dibuat. Pastikan jika apa yang kita bagikan kepada mereka tetap membuat mereka merasa terlibat dan terbantu. Adapun tempat yang yang tepat sebagai media untuk mengolah personal brand, yakni melalui media sosial.

Berbagai media sosial dapat digunakan sebagai tempat yang sesuai terhadap kebutuhan personal branding. Salah satu platform media sosial yang sering digunakan saat ini adalah Instagram. Menurut data yang dirilis Napoleon Cat, pada periode Januari-Mei 2020, pengguna Instagram di Indonesia mencapai 69,2 juta (69.270.000) pengguna. Berdasarkan data tersebut, maka Instagram memiliki peran yang besar untuk menaikan citra seseorang atau penggunanya.  

Penerapan personal brand yang baik memang tidak sederhana dan semudah itu. Ungkapan “The strong brand is not built in overnight” sangat benar adanya. Membutuhkan banyak waktu dan perencanaan yang tepat untuk mendapatkan hasil/reputasi yang sesuai. Banyaknya peluang yang hadir beriringan dengan era digital saat ini, personal branding mampu menjadi batu loncatan dalam kesuksesan karier seseorang. Jadi ketika sudah mendapatkan hasil dari personal branding tersebut, upayakan untuk tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah dicapai. Get started on it today! Your audience needs you.

Penulis: Puspa Majalengka | Editor: Aulia Sholihat
( bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran )

Referensi 

Mc Nally & Speak. (2011). Be your own brand: achieve more of what you want by being more of who you are. San Fransisco: Berret- Koehler Publisher.

Montoya, P. and Vandehey, T. (2008) The Brand Called You: Create a Personal Brand That Wins Attention and Grows Your Business. McGraw-Hill, New York

Rampersad, H. K. (2008). Authentic personal branding. Jakarta: PPM Publishing.

Iman, Mustofa. (2020). Pengguna Instagram di Indonesia Didominasi Wanita dan Generasi Milenial. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/14/pengguna-instagram-di-indonesia-didominasi-wanita-dan-generasi-milenial. Diakses pada 03/10/2020. 

Author

admin@perhumasmudabdg.com
Total post: 39

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *