Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest

Rilis

  • Bagaimana seorang PR mengatasi sebuah krisis di Era Digital?

    Sering sekali perjalanan sebuah perusahaan mengalami manajemen krisis dan komunikasi krisis. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan Manajemen Public Relations. Sebaik apapun kinerja seorang praktisi PR, pasti akan ada hal-hal terjadi yang sifatnya di luar kontrol dan mampu menyebar dengan cepat. Apalagi di era sekarang yang sifatnya serba digital, penyampaian informasi krisis, berita-berita krisis, isu miring maupun berita negatif akan sangat cepat menyebar ke segala penjuru dunia dengan adanya kemajuan teknologi media. Oleh karena itu, kondisi ini menuntut praktisi PR untuk mampu menangani dan merespon krisis tersebut dengan tepat.

    Kata ‘krisis’ berasal dari bahasa Yunani, kpion, yang artinya “keputusan”. Krisis Public Relations adalah peristiwa, rumor, atau informasi yang membawa pengaruh buruk terhadap reputasi, citra, dan kredibilitas perusahaan. Ketika krisis terjadi, perusahaan harus dapat memutuskan gerakan apa yang akan dipilih, bergerak ke kanan atau bergeser ke kiri, ke bawah, ke atas, bertarung atau melarikan diri. Fearn-Banks (1996:1) menyebutkan bahwa definisi krisis sebagai “a major occurrence with a potentially negative outcome affecting an organization, company or industry, as well as its publics, products, services or good name.” Pada intinya, krisis adalah situasi yang tidak terduga oleh perusahaan, sehingga perusahaan tersebut biasanya tidak dapat menduga bahwa akan muncul krisis yang dapat mengancam keberadaan sebuah organisasinya. Namun, krisis bisa dianggap sebagai “turning point in history life” yaitu suatu titik balik dalam kehidupan yang dampaknya akan memiliki pengaruh yang signifikan, bisa ke arah positif maupun negatif tergantung reaksi yang ditunjukan oleh individu ataupun kelompok masyarakat.

    Praktisi PR berperan untuk memberitahukan kepada publik tentang apa yang terjadi, apa yang sedang dan akan dilakukan perusahaan dan apa yang harus dilakukan oleh publik, karena ini merupakan pendekatan simbolik yang harus dijalani organisasi (Groud & Kelly, 1974). Ketika terjadi krisis, hal-hal yang harus dilakukan oleh praktisi PR dalam mengemas informasi terhadap publik dapat dilakukan dengan beberapa cara; instructing information, berisi informasi, petunjuk, pedoman apa yang harus dilakukan oleh publik dalam krisis; adjusting information, yaitu informasi yang memungkinkan agar publik dapat mengatasi masalah-masalah emosional mereka; dan internalizing information, yaitu informasi yang akan diserap khalayak yang nantinya akan membentuk penilaian publik terhadap organisasi tersebut dalam jangka panjang, biasanya dilakukan dengan mengadakan press conference. Saat krisis sudah teratasi, peran praktisi PR adalah memperbaiki hubungan dan posisi perusahaan di mata masyarakat dan stakeholders secara khusus dan mengembalikan kepercayaan publik.  

    Namun yang perlu di garis bawahi adalah seringkali sebuah organisasi mengembalikan kepercayaan publik dan meyakinkan bahwa organisasinya akan menjadi lebih baik hanya dengan melakukan pernyataan dan permintaan maaf. Seringkali pernyataannya hanya sebuah retorika kosong, sekadar menyampaikan apa yang ingin didengar publik tanpa kesungguhan, membuat alasan, atau bahkan mengkambinghitamkan dan menyalahkan pihak lain atas kesalahan yang terjadi. Oleh karena itu, pernyataan dan permintaan maaf tersebut harus memiliki tiga kriteria ini agar menjadi sebuah pernyataan maaf yang efektif, yaitu :

    1. Kredibilitas

    Kredibilitas di sini yaitu pernyataan dan permintaan maaf harus berdasarkan dengan fakta yang ada, meliputi apa yang sebenarnya terjadi dan tindakan apa yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Menurut riset Roderick Kramer dari Stanford University dan Roy Lewiciki dari Ohio State University, bahwa penjelasan tentang tindak lanjut yang dilakukan organisasi untuk mengatasi masalah krisis bersifat lebih persuasif untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat daripada hanya menyalahkan atau menghubungkan faktor penyebab krisis dari eksternal organisasi. Jangan lupa juga untuk selalu kontrol informasi yang beredar.

    1. Niat baik

    Permintaan maaf harus mengandung relevansi terhadap pihak-pihak yang dirugikan. Fokus pada mereka bukan Anda. Fokuslah pada pihak yang mengalami kerugian karena krisis tersebut, hal ini berguna untuk membuktikan kepedulian organisasi terhadap dampak yang dirasakan oleh pihak yang dirugikan. Cantumkan detil spesifik tentang pihak terdampak juga hal yang sangat penting, lalu usahakan merespon dan meminta maaf sesegera mungkin

    1. Pertanggungjawaban

    Setelah fakta-fakta krisis tersebut disampaikan, segeralah merumuskan langkah konkrit aksi yang dilakukan organisasi untuk menangani krisis. Jangan hanya melakukan permintaan maaf tanpa menunjukan kepada stakeholders bahwa organisasi akan memperbaiki kesalahanya.

    Pemanfaatan  peran internet dan platform juga sangat efektif untuk menangani sebuah krisis. Menurut Singue Kilatmaka, Manager Media Relations Telkomsel, dalam sebuah konferensi yang berjudul “Strategi Mengelola Isu, dari Ancaman Menjadi Peluang”, praktisi PR harus dapat memanfaatkan fenomena digital ini dengan maksimal. Oleh karena itu, dengan adanya kondisi digital seperti ini, di mana proses penyampaian krisis berada di luar kontrol dan sangat cepat, praktisi PR dituntut mampu menangani krisis dengan tepat dan juga cepat. Beliau juga memberikan tips untuk menghadapi krisis berdasarkan pengalamannya di Telkomsel, yaitu :

    Tentukan prioritas

    siapkan skala prioritas untuk menentukan urgensi dari suatu isu, apakah harus didahulukan atau ada hal lain yang lebih penting untuk disampaikan.

    Buat timeline

    Buatlah timeline setelah menentukan urgensi krisis, misalnya pernyataan apa yang akan dinyatakan lebih dulu, berapa banyak jumlah pernyataannya, dan bagaimana pernyataan-pernyataan tersebut dapat mengatasi krisis.

    Susun strategi

    Kunci dari fase ini yaitu jangan membuat strategi tanpa dilengkapi dengan data atau sumber

    Memanfaatkan relasi

    Saat inilah manfaat dari relasi yang baik yang dimiliki organisasi. Hubungan baik dan saling percaya harus terjalin dari sebelum terjadinya krisis.

    Pilih media yang tepat

    Pilihlah saluran komunikasi yang tepat yang dapat menjangkau audiens luas dan tepat sasaran. Segera distribusikan informasi yang ingin disampaikan setelah media dan platform telah ditentukan. Jangan ditunda-ditunda, karena respon yang lambat bisa memperkeruh situasi krisis.

    Pemulihan dan Evaluasi

    Buatlah recovery stories (catatan pemulihan), gunakan teknik bombardir media dengan berita positif agar fokus publik dapat teralihkan dari krisis yang menimpa organisasi. Jangan lupa juga untuk melakukan evaluasi agar mencegah krisis yang sama terulang.

    Penulis: Jihan Rizki Adawiyah | Editor: Daffa Rizky Pratama

    (Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran)

    Sumber Referensi

    Humas Indonesia. (2019, Agustus 18). Permintaan Maaf saat Krisis (bagian 2) – Sampaikan dengan Tepat. humasindonesia.id. Retrieved Oktober 14, 2020, from https://www.humasindonesia.id/berita/permintaan-maaf-saat-krisis-bagian-2-%E2%80%93-sampaikan-dengan-tepat-191

    Humas Indonesia. (2019, Agustus 28). Atasi Krisis di Era Digital dengan Kecepatan dan Cerita. humasindonesia.id. Retrieved Oktober 15, 2020, from https://www.humasindonesia.id/agenda/atasi-krisis-di-era-digital-dengan-kecepatan-dan-cerita-205

    Luhukay, M. (2008, Januari). PENERAPAN MANAJEMEN KRISIS DI INDONESIA : MEMOTRET KRISIS DALAM KACAMATA PUBLIC RELATIONS. Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol. 2, No. 1, 26.

    Purwaningwulan, S.Sos., M. Si., M. M. (n.d.). Public Relations dan Manajemen Krisis. Majalah Ilmiah UNIKOM, Vol.11, 167.

  • Mulutmu Harimaumu, Pentingnya Menjaga Lisan dan Tulisan Bagi Seorang Public Relations

    Seorang public relations merupakan wajah dari sebuah instansi maupun perusahaan yang diwakilinya. Sebagai sebuah wajah dari sebuah instansi atau perusahaan, tentunya kredibilitas yang dimiliki oleh seorang public relations mempengaruhi instansi maupun perusahaan yang diwakilinya. Public relations dapat diibaratkan sebagai cermin yang dipegang, kalimat ini mengindikasikan bahwa kredibilitas seorang public relations berbanding lurus dengan kredibilitas instansi atau perusahaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, praktisi public relations harus mendapatkan pengakuan kredibilitas oleh publik. 

    Kredibilitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti dapat dipercaya. Publik dapat mengakui kredibilitas seorang praktisi public relations dengan melihatnya melakukan dan mengatakan kebenaran. Mengatakan kebenaran merupakan salah satu dari sekian banyak etika public relations, dimana etika-etika tersebut mengatur hal apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang praktisi public relations dalam melakukan pekerjaannya.

    Tentunya, banyak pertanyaan yang muncul di benak ketika membaca mengenai “mengatakan kebenaran”. Mengapa mengatakan kebenaran adalah suatu hal yang sangat penting? Mengapa kebenaran termasuk ke dalam etika seorang praktisi public relations? Apakah itu berarti seorang praktisi public relations tidak boleh berbohong sama sekali?

    Mengatakan kebenaran adalah salah satu komponen penting dalam menumbuhkan rasa percaya publik terhadap kredibilitas yang dimiliki oleh seorang praktisi public relations. Mengatakan kebenaran adalah salah satu bagian dari integritas, yang merupakan komponen utama dalam menumbuhkan kredibilitas seorang praktisi public relations. Public relations, sebagai wajah dari sebuah institusi maupun perusahaan, bertanggung jawab dalam mempublikasikan segala laporan dan berita-berita yang ada dari dalam perusahaan ataupun institusi kepada publik. Public relations juga bertanggung jawab untuk mempublikasikan serta mengatasi krisis yang sedang dialami oleh perusahaan ataupun instansi tersebut. Sering kali, krisis yang dipublikasikan oleh seorang public relations bersangkut paut dengan publik, seperti ketika seorang praktisi public relations sebuah brand skin care menggelar press conference untuk mengatasi krisis ketidakpercayaan publik terhadap komponen yang digunakan di dalam produk brand tersebut. Seorang praktisi public relations harus bisa meyakinkan publik bahwa produk yang mereka gunakan sudah aman dari bahan-bahan berbahaya. Tanpa adanya rasa percaya publik terhadap kredibilitas yang dimiliki oleh praktisi public relations tersebut, tentunya publik tidak akan mudah percaya dengan statement yang dikeluarkan. Untuk mencapai hal ini, seorang praktisi public relations harus selalu mengatakan kebenaran dan tidak boleh sekalipun berbohong di hadapan publik.

    Meskipun demikian, mengatakan kebenaran tidak berarti setiap detail dari sebuah informasi harus dibeberkan sepenuhnya kepada publik. Seorang praktisi public relations harus bisa memilah apa saja yang harus dikatakan dan apa yang sebaiknya tidak dikatakan dihadapan publik. Melindungi citra perusahaan adalah salah satu tugas utama seorang praktisi public relations. Sering kali, seorang public relations tidak merilis seluruh informasi yang ia ketahui untuk melindungi kredibilitas perusahaan maupun instansi yang sedang ia wakilkan. Hal ini tidak berarti berbohong, public relations yang bersangkutan tentunya sudah merilis informasi yang kredibel dan dapat dipercaya, meskipun tidak semua informasi dibeberkan kepada publik.

    Membangun kredibilitas memerlukan waktu dan tidak semudah yang dibayangkan. Kita, sebagai seorang calon praktisi public relations di masa depan, tentunya masih harus mempelajari banyak hal agar dapat meraih titik di mana kredibilitas kita diakui oleh publik. Meskipun terdengar melelahkan, hal ini tentunya harus dilakukan agar kita dapat menjadi seorang praktisi public relations yang baik. Membangun kredibilitas dapat dimulai dengan hal kecil di dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak berkata bohong kepada teman dan tidak begitu saja menyebarkan berita hoax di sosial media pribadi. Jadi, tunggu apalagi? Mulailah membangun kredibilitas dari saat ini demi menjadi seorang praktisi public relations yang baik di masa depan!

    Penulis: Ardita Syalwa
    ( bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran )

    Referensi

    Seitel, F. P. (2014). Practice of Public Relations, 12th Edition. New York: Pearson Education.

    Kamus Besar Bahasa Indonesia. (n.d.). Kredibilitas. Retrieved from Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): https://kbbi.web.id/kredibilitas

    Daskal, L. (2017, Juni 13). 10 Powerful Ways You Can Earn Credibilty in Your Industry. Retrieved from Inch: https://www.inc.com/lolly-daskal/10-powerful-ways-you-can-earn-credibility-in-your-industry.html

    BHP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (2010, Mei 8). Public Relations Harus Katakan yang Benar. Retrieved from Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: https://www.umy.ac.id/public-relations-harus-katakan-yang-benar.html

  • Pentingnya Membangun Personal Branding Sebagai SDM yang Berkualitas

    Personal Brand sudah menjadi suatu kewajiban yang harus dikuasai oleh seorang calon praktisi Public Relations. Seorang pendiri Amazon, Jeff Bezos mengatakan bahwa “Your brand is what other people say about you when you’re not in the room”. Jauh sebelum saat ini, “branding” kerap kali beririsan sebagai istilah dalam bisnis. Kini, “branding” tidak lagi terdengar asing, tetapi menjadi sebuah cara untuk menggambarkan citra diri mengenai karier atau hal-hal lain untuk lingkungan sekitar.

    Personal brand adalah kombinasi yang unik antara keahlian dan pengalaman yang membuat kita berbeda daripada yang lainnya. Bisa dibilang, personal brand adalah bekal untuk merepresentasikan diri di hadapan publik. Konsep branding terlihat cukup mudah. Cara yang autentik serta mengomunikasikan self-image secara konsisten dan jelas, mampu memberikan pengaruh positif terhadap orang lain. Melalui hal ini, individu dapat secara langsung membangun image yang ingin ditampilkan supaya berbaur di kalangan publik sasaran.

    Lantas, bagaimana cara membangun personal branding yang tepat? Menurut Montoya & Vandehey dalam bukunya yang berjudul “The Brand Called You: Create a Personal Brand That Wins Attention and Grows Your Business” menjelaskan bahwa membangun personal branding tentunya memerlukan beberapa elemen utama, dimana elemen-elemen tersebut harus saling terintegrasi dan dibangun secara bersamaan. 

    Personal Branding dapat dibagi menjadi tiga elemen utama, yakni :

    1. You, atau dengan kata lain, seseorang itu sendiri. Seseorang dapat membentuk sebuah personal branding melalui sebuah polesan dan metode komunikasi yang disusun dengan baik, yang dirancang untuk menyampaikan dua hal penting kepada target sasaran yang kita tuju. Ini menggambarkan apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang seseorang. Hal tersebut mencerminkan nilai-nilai, kepribadian, keahlian dan kualitas yang membuat seseorang berbeda dengan yang lainnya. 

    2. Promise. Personal Brand adalah sebuah janji, sebuah tanggung-jawab untuk memenuhi harapan yang timbul di kalangan masyarakat sebagai akibat dari personal brand itu sendiri. 

    3. Relationship. Sebuah personal branding yang baik akan mampu menciptakan suatu relasi yang baik dengan klien. Semakin banyak atribut-atribut yang dapat diterima oleh klien dan semakin tingginya tingkat kekuasaan seseorang, menunjukkan semakin baiknya tingkat relasi yang ada pada personal branding tersebut. 

    Menjadi seorang mahasiwa tentu 3 elemen utama ini dapat diaplikasikan. Sebagai contoh mahasiswa mendefinisikan dirinya sebagai remaja berprestasi yang dibuktikan dengan perolehan beasiswa atau  aktif ikut serta pada kegiatan dalam dan luar kampus. Masih melalui media sosialnya, ia kerap aktif berusaha membagikan hal-hal yang positif kepada para pengikut media sosialnya. Seorang mahasiswa diharapkan tampil di mata publiknya sepatutnya seorang mahasiswa. Mulai dari penampilan fisik hingga cara berpikir. Segala bentuk citra yang ingin ditampilkan harus memenuhi janji sebagai tanggung jawab kepada publiknya. Dengan begitu, hubungan yang didapat dengan publik akan  tercipta sangat baik.

    Sukses atau tidaknya personal brand juga dinilai oleh strategi yang tepat. Untuk merepresentasikannya, dapat dimulai dari bercerita mengenai diri sendiri. Cerita ini dapat dimulai dengan menjawab pertanyaan siapa diri kita? Hal apa yang kita minati? Kepribadian apa yang ingin ditunjukkan? Pesan apa yang ingin disampaikan? Sukses membuat cerita, beralih pada audience. Penting untuk menemukan audience yang menjadi sasaran publik atas konten yang dibuat. Pastikan jika apa yang kita bagikan kepada mereka tetap membuat mereka merasa terlibat dan terbantu. Adapun tempat yang yang tepat sebagai media untuk mengolah personal brand, yakni melalui media sosial.

    Berbagai media sosial dapat digunakan sebagai tempat yang sesuai terhadap kebutuhan personal branding. Salah satu platform media sosial yang sering digunakan saat ini adalah Instagram. Menurut data yang dirilis Napoleon Cat, pada periode Januari-Mei 2020, pengguna Instagram di Indonesia mencapai 69,2 juta (69.270.000) pengguna. Berdasarkan data tersebut, maka Instagram memiliki peran yang besar untuk menaikan citra seseorang atau penggunanya.  

    Penerapan personal brand yang baik memang tidak sederhana dan semudah itu. Ungkapan “The strong brand is not built in overnight” sangat benar adanya. Membutuhkan banyak waktu dan perencanaan yang tepat untuk mendapatkan hasil/reputasi yang sesuai. Banyaknya peluang yang hadir beriringan dengan era digital saat ini, personal branding mampu menjadi batu loncatan dalam kesuksesan karier seseorang. Jadi ketika sudah mendapatkan hasil dari personal branding tersebut, upayakan untuk tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah dicapai. Get started on it today! Your audience needs you.

    Penulis: Puspa Majalengka | Editor: Aulia Sholihat
    ( bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran )

    Referensi 

    Mc Nally & Speak. (2011). Be your own brand: achieve more of what you want by being more of who you are. San Fransisco: Berret- Koehler Publisher.

    Montoya, P. and Vandehey, T. (2008) The Brand Called You: Create a Personal Brand That Wins Attention and Grows Your Business. McGraw-Hill, New York

    Rampersad, H. K. (2008). Authentic personal branding. Jakarta: PPM Publishing.

    Iman, Mustofa. (2020). Pengguna Instagram di Indonesia Didominasi Wanita dan Generasi Milenial. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/14/pengguna-instagram-di-indonesia-didominasi-wanita-dan-generasi-milenial. Diakses pada 03/10/2020. 

Subscribe to our Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Share this post with your friends

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin